Cinta dalam Diam 3: Ajari Aku

Bagian 3: Sebuah cerita dalam diam lanjutan Bagian 1: Perpisahan dan Bagian 2: Masih Sama

Ca, sebenarnya aku suka sama kamu. Aku udah lama memendam perasaan ini. Aku memang nggak mudah buat suka dan menyampaikan perasaan suka itu ke orang lain. Tapi, tidak untuk sekarang. Ya, karena kamu beda. Perbedaannya terletak pada caramu; caramu yang membuatku tersenyum dengan kecerianmu, caramu berbincang denganku, dan caramu mengisi hariku.

"Ah kenapa jadi terlalu melankolis gini ya?!" Aku membaca teks yang kubuat di depan cermin. Mencoret kalimat-kalimat yang sepetinya tak perlu. "Nggak, nggak, nggak enak! Pasti freak kalau gini."

Minggu lalu, Dika sekali lagi bilang, "Kalau lu terus nyimpen perasaan itu sendiri, bakal banyak yang terlewat lagi gitu aja. Udahlah lu ungkapin dulu aja. Entah apa respon dia, setidaknya lu udah ngungkapin semua."

Aku selalu terpikir kalimat Dika itu. Apa benar yang Dika ucapkan? Terlewat untuk kedua kalinya? Mau sampai kapan? Dan sejak tiga hari yang lalu, aku mencoba memikirkan cara untuk menyampaikan hal itu.

Aku tahu ini hal yang tak mudah. Aku juga tahu, nanti akan hanya ada dua kemungkinan. Pertama, semua bakal berjalan lebih indah, dia merespon dengan hal yang sama, dan semua akan baik-baik saja. Kedua, semua akan menjadi canggung, semua bakal awkward, dan mungkin kami nggak akan bisa dekat lagi. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya. Bukankah lebih baik menikmati jalan ceritanya saja daripada terus-terusan menerka akhir ceritanya?

Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk sekadar mengungkapkan apa yang sudah sejak lama terpendam itu. Entah kemungkinan apa yang akan terjadi, life must go on  'kan?

Aku melihat ke arah jam dinding kantor sore itu, pukul 17.25.

"Ca, kamu nggak pulang?" Aku membuka obrolan, mendekat ke meja Chaca. Suasana kantor sudah terbilang sepi sejak 30 menit yang lalu.

"Kayaknya nanti dulu deh, Za. Aku masih harus nge-review satu company lagi nih. Nanggung soalnya," jawabnya masih sambil memandang layar komputer dan coret-coret di kertas, lantas sedikit melirik ke arahku. "Kamu?"

Sebenarnya ini pertanyaan retoris buatku. Ya sejak kami dipertemukan lagi beberapa bulan lalu, mungkin hampir 11 bulan, setelah perpisahan itu, aku hampir tak pernah meninggalkannya, walau hanya sekadar jam pulang. Kami memang sudah dekat sejak saat itu. Tentunya hanya sebatas partner kerja saja. Walaupun sebenarnya ada yang lain.

"Aku? Aku nungguin kamu aja sih."

"Kalau mau balik duluan, balik duluan aja kali!"

Aku lantas mencari alasan, "Sekalian mau ngerapiin file-file aja sih. Emm.... atau ada yang mau ak bantu nggak?"

"Kayaknya nggak ada. Ini juga tinggal satu bagian doang kok."

"Ohh, oke." Aku pura-pura merapikan file-file di meja yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat. Selebihnya aku hanya bermain game sambil sesekali melihat wajahnya yang sedang serius.

Jam dinding menunjukkan pukul 18.07. Dia bilang kalau dia sudah selesai dan beberapa review akan dilanjut esok hari saja. Kami pun berkemas. Sambil berkemas, mungkin ini saatnya yang tepat untuk sekadar mengatakan yang sebenarnya.

"Ca, ada yang ingin aku omongin sama kamu."

Seketika dia mematung sepersekian detik, terkejut. "Apaan, Za?"

Ruangan kosong saat itu, menyisakan kami berdua. Pendingin ruangan terasa lebih dingin dari biasanya. Ayolah Za, sekarang saatnya! Ayolah!

Aku menarik nafas panjang, "Kamu mau langsung pulang kah?"

Ah kenapa yang muncul pertanyaan itu? Kenapa nggak langsung aja diungkapin, hah? Aku benar-benar ingin memaki diriku sendiri saat itu.

"Iya, udah lumayan malem juga sih," jawab Chaca.

Kami pun berjalan beriringan menuju keluar kantor. Pikiranku berkemelut. Apa sekarang saja? Oke ini saat terakhir, nggak boleh gagal.

"Za, sorry ya bikin kamu nunggu lama tadi." Chaca membuka obrolan lebih dulu sebelum aku mampu mengungkapkan hal itu.

"Eh, santai aja kali." Aku mencoba untuk tetap tenang.

"Tapi aku nggak enak sama kamu, Za!"

Aku tartawa kecil, "Nggak enak? Kayak sama siapa aja sih kamu pakai nggak enak."

Seketika dia menoleh sebentar, mengulangi pelan sebagian kalimat yang kuucapkan, "Kayak sama siapa aja?"

Aku diam, hanya tersenyum.

"Tapi kenapa kamu mau nungguin aku?" Dia bertanya lagi.

"Ya, karena aku suka ka....." Aku sempat berhenti sejenak, dia menoleh cepat. "Eh, maksudnya suka aja, kan WiFi-nya juga lumayan kenceng."

Kenapa aku harus berbohong lagi??!! Kenapa nggak langsung bilang yang sejujurnya saja??!!

Dan malam itu, aku hanya bisa meratapi sesal sambil melihatnya berjalan menjauhiku, melambaikan tangan, dan tersenyum, sambil bilang, "Hati-hati di jalan, ya," Malam ini, tak ada kalimat lain yang terucap, tak ada isi hati yang tercurah, dan tak ada perasaan yang terungkap. Meskipun pada akhirnya tak bisa terungkap, tapi dalam doa ada namamu yang selalu kuucap. Dan Sepertinya memang perasaan ini masih setia untuk bersemi dalam diam. Entahlah.

0 komentar:

Posting Komentar

Nggak usah sungkan buat nanya atau nulis disini, selaw aja.
Jangan lupa klik iklannya juga ya, buat support kami :)))