7 Cara Mengatur Keuangan ala Fresh Graduate dan First Jobbers

First Jobber Ilustration


Suatu ketika gue pernah ditanya sama temen tentang pertanyaan yang bagi gue sendiri sebenernya agak membingungkan. Yes, kurang lebih pertanyaannya;
Menurut lo gaji 5-6 juta buat hidup di Jakarta itu cukup nggak? Maksudnya, kira-kira masih bisa nabung bulanan nggak ya sama gaji segitu? Selama ini kok gue susah ya? Pasti langsung abis gitu aja.
Sebenernya ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit bagi gue. Yes, karena sebenernya pertanyaan ini tergantung gaya hidup tiap orang. Tapi menurut gue, itu udah lebih dari cukup lho!

Nah gue mau share cara-cara ngatur duit ala gue nih sebagai orang yang baru kerja alias First Jobber. Cara-cara ini gue dapet dari beberapa sumber, tapi kebanyakan lebih ke learning by doing aja. Dan gue juga nggak pakai jasa financial planner alias ya gue jalanin aja sendiri. Daripada nyewa financial planner ya kan mahal.

Buat Anggaran

Hal terpenting untuk bisa mengatur keuangan adalah anggaran. Nah gue mau cerita sedikit nih pengalaman gue. Jadi dulu pas awal-awal banget jadi first jobber, gue sama sekali nggak mikirin sama sekali tentang gimana gue manage duit. Yes, alias let it flow ajalah. Dan hasilnya nggak kerasa isi rekening makin hari makin kekuras. Dan, karena gue perantau di ibu kota, hampir aja gue nggak bisa bayar kost.

Karena itu gue sadar kalau anggaran itu penting. Udah gue bold, italic, sekaligus underline. Nggak cuma negara aja yang butuh anggaran, ternyata hidup seorang pun harus ada anggarannya. Jadi setiap akhir bulan, bikin daftar anggaran untuk bulan depan. Atau bisa juga bikin satu anggaran bulanan untuk berbulan-bulan biar nggak selalu bikin.

Anggaran ini isinya prosentase yang kira-kira dibutuhkan atau digunain pada tiap pos tertentu. Misalnya nih:
50% dari pendapatan digunain buat kebutuhan sehari-hari, termasuk makan, kostan (kalau kalian perantau), transport (baik ke kantor maupun buat main), dan belanja-belanja kebutuhan sehari-hari.
20% dari pendapatan digunain  buat ngopi-ngopi cantik alias kehidupan sosial. Di pos ini juga bisa digunain buat nyenengin diri, makan-makan cantik, jalan-jalan di mall, atau lainnya.
20% dari pendapatan digunain buat nabung dan investasi. Haram hukumnya buat ngambil anggaran pos ini untuk keperluan selain nabung sama investasi. Pokoknya di pos ini buat masa depan.
10% dari pendapatan buat amal atau sedekah. Yang ini jangan dilupain pokoknya. Harus ada anggaran buat amal dan sedekah.

Setelah bikin anggaran, jalanin aja sesuai anggaran itu. Di akhir bulan anggaran, cek pos mana aja yang bocor dan kenapa bisa bocor. Lakuin perenungan alias evaluasi apa aja yang udah dilakuin sebulan sehingga anggaran yang dibuat bisa bocor. Lakuin itu rutin, deh! Pasti akan terbiasa disiplin gunain dana sesuai posnya.

Catat Semua Pengeluaran

Setelah bikin anggaran, tentunya kita pasti ingin tahu dong realisasinya. Nah catat seluruh pengeluaran adalah kuncinya. Emang susah buat nyatet pengeluaran, apalagi seluruh pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil seperti beli minuman ringan, atau bayar parkir sekalipun. Tapi biasanya justru pengeluaran kecil itu yang bikin jadi besar. Untuk itu perlu dicatat semua pengeluaran. Yes, semua, termasuk seratus perak.

Catat Semua Pengeluaran!
Karena jutaan orang tidak menyadari kalau recehan-recehan yang mereka keluarkan dengan sering, maka lama-lama akan jadi banyak juga jumlahnya.

Sekarang sih nggak perlu repot-repot buat nyatet manual di kertas. Sekarang sudah banyak aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan buat nyatet pengeluaran, bahkan bisa masukin pengeluaran itu kedalam pos-pos sesuai anggaran yang kita buat sebelumnya. Tapi berhubung gue nggak dibayar nih buat promosi, gue nggak sebutin tuh nama aplikasinya. Plak!

Nah, malam sebelum tidur, isi tuh aplikasi buat nyatet pengeluaran hari itu. Tiap weekend atau pas lagi kosong, kurangin anggaran perpos-pos sama pengeluaran yang udah dimasukin perpos-pos itu juga. Kalau emang sisa anggaran udah nipis, maka udah saatnya buat kurang-kurangin khilafnya alias berhemat. Tapi bukan berarti kalau sisa anggaran masih banyak malah makin boros. Jangan nambah khilaf, euy!

Sisihkan bukan Sisakan

Banyak orang yang salah kaprah soal nabung. Kebanyakan mereka menabung dari sisa kebutuhan. Padahal itu salah. Bisa-bisa malah nggak nabung sama sekali. Nah buat hindari itu, maka konsepnya dibalik, yaitu dengan menyisihkan dulu buat nabung.

Di awal tadi kita udah bikin anggaran. Salah satu pos anggaran itu adalah buat nabung dan investasi. Sisihkan dulu dana di pos itu setelah gajian atau terima pendapatan. Jadi kita tetep bisa nabung dengan jumlah yang konsisten secara terus-menerus.

Pisahkan Rekening

Walaupun sepele, tapi ternyata memisahkan rekening itu penting. Penting buat punya rekening lebih dari satu. Satu rekening buat nampung dana kebutuhan, sisanya buat nabung atau investasi. Nah nyambung sama cara sebelumnya nih, jadi menyisihkan pendapatan untuk nabung di awal tanggal gajian bisa langsung menaruh duitnya pada rekening khusus tabungan ini. Tapi inget, jangan pernah mengambil dana di rekening nabung ini, kecuali buat keperluan yang bener-bener mendesak. Kalau perlu sih simpan kartu debit tabungan dan jangan taruh di dompet. Sementara rekening yang menampung dana kebutuhan, bisa digunain buat kebutuhan sehari-hari.

Jadi memisahkan rekening ini intinya buat memisahkan rekening tabungan dan rekening kebutuhan. Sebenarnya bebas mau memisahkan ke berapa rekening. Tapi jangan banyak-banyak karena malah bisa lebih susah ngelolanya. Kalau saran gue sih 2 rekening aja cukup. Udah kayak KB malah. Plak! Bebas mau sama bank atau beda bank sekalipun. Inget ya rekening bank, bukan e-wallet, seperti LinkAja, Ovo, Gopay, atau Dana. Kenapa jangan e-wallet? Karena e-wallet sekarang lebih banyak promo, bisa-bisa malah makin khilaf!

Mengerti Kebutuhan dan Keinginan

Nah kalau cara ini sebenernya adalah cara paling susah. Kadang kita menganggap kalau kita itu bener-bener butuh tuh barang, eh akhirnya malah nganggur. Yang kayak gini ini biasanya karena barang itu cuma keinginan, bukan kebutuhan. Emang susah sih buat bedain antara kebutuhan dan keinginan. Tapi menurut beberapa sumber yang gue baca, dan tentunya udah gue praktekkan, caranya tenyata simpel. Cukup beri waktu buat diri kita mikir.

Misalnya gini, jika kita ingin suatu barang nih, jangan langsung beli, tapi biarkan 3 sampai 7 hari diri kita buat mikir apakah itu barang bener-bener butuh atau ternyata cuma buat lucu-lucuan aja. Di waktu 3 sampai 7 hari itu pertimbangin juga efeknya apa aja jika barang itu nggak kebeli, alternatif barang lain yang lebih penting, atau apapun buat mempertimbangkan apakah barang itu layak dibeli atau nggak.

Kalau sudah sampai 7 hari dan kita udah lupa sama barang itu, tandanya barang itu nggak penting-penting amat, berarti bukan kebutuhan, tapi keinginan. Sebaliknya kalau setelah 7 hari itu emang ngerasa butuh banget barang itu, sampai-sampai nggak bisa hidup tanpa dirimu, ya berarti emang butuh. Layak buat ngeluarin dana buat beli itu barang. Karena yang bikin boros itu adalah keinginan karena lucu-lucuan aja, bukan karena emang butuh.

Dana Darurat dan Investasi

Di cara-cara sebelumnya gue udah nyinggung nih tentang dana darurat dan investasi. Ini perlu banget buat masa depan. Apasih dana darurat dan investasi itu?

Dana darurat itu semacam tabungan yang hanya digunain buat keadaan darurat. Inget, hanya digunain dalam keadaan darurat. Keadaan darurat ini misalnya tiba-tiba ada keluarga yang sakit keras, atau malah diri sendiri, sampai masuk rumah sakit. Bisa juga tiba-tiba ada PHK karyawan di tempat kita dan mengharuskan kita buat nyari tempat baru.

Besarnya dana darurat ini sih idealnya 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan, yang artinya misal kita nggak dapat gaji 3 sampai 6 bulan kita masih bisa hidup. Jika katakanlah pengeluaran bulanan adalah Rp3.000.000,- maka idealnya dana darurat adalah Rp9.000.000 sampai Rp18.000.000. Waduh kok gede amat? Yes, emang gede karena tujuannya emang buat ngecover keadaan darurat. Tapi ngumpulin dana darurat bisa dicicil bulanan kok, ya bisa dari anggaran yang dibuat tadi. Kan kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama dua-tiga pulau terlampaui. Sisihkan dikit-dikit, kebutuhan dapat, nabung dapat, dana darurat dapat. Secara teori dana darurat sih gitu. Prakteknya sendiri sih gue udah ada dana darurat, cuma belum mencapai titik ideal. Setidaknya ada-lah.

Apa bedanya sama investasi?
Investasi itu kasarnya adalah melakukan hal saat ini buat masa depan. Investasi itu nggak melulu soal duit, duit, dan duit kok. Bahkan beberapa pendapat investasi yang paling penting itu leher keatas. Bukan, bukan sabun muka, tapi ilmu. Apalagi buat first jobber tentunya harus terus belajar kan ya.

Tapi meskipun demikian, investasi material itu juga perlu banget, lho! Banyak instrumen investasi yang bisa dipilih buat masa depan, seperti deposito, emas atau logam mulia, surat berharga negara atau obligasi, reksadana, hingga saham. Tinggal milih sesuai profil risiko. Inget ya, kalau di investasi harus disesuaikan dengan profil risiko, bukan keinginan. Karena dalam investasi itu selalu risiko dan berlaku high risk high return. Kalau ingin imbal balik yang besar, ada risiko besar di dalamnya. Nah, seberapa toleran kita sama risiko tersebut, itulah profil risiko.

Sebenernya panjang kalau udah bahas dana darurat dan investasi. Rencanya gue bakal nulis ini di pembahasan yang berbeda, khusus tentang dana darurat dan investasi. Ditunggu aja tanggal mainnya.

Bersedekah

Ini wajib dan harus ada kalau mau memanage keuangan. Yes, dengan bersedah kita pasti akan selalu ngerasa cukup dan dicukupkan. Dan yang perlu diinget, sebagian harta kita adalah milik orang lain yang kurang beruntung. Jadi, kalau dapat gaji atau pendapatan pos untuk sedekah harus ada dan harus disisihkan lebih dulu. Jangan sampai pos sedekah malah dibuat ngopi-ngopi cantik.


Sebenernya masih banyak sih cara-cara lain yang bisa dilakukan buat mengatur keuangan ala fresh graduate dan first jobber. 7 cara itu yang umum dan paling gampang dilakukan. Gue juga udah nyoba, dan hasilnya gue seikit banyak kemana uang gue, ya kadang juga masih ada yang bocor. Sebenernya dari ketujuh cara tersebut masih banyak yang harus dijelaskan. Karena ini udah panjang, jadi kalau masing-masing dibikin post terpisah bagaimana, ya?

Terakhir gue mau ngutip kata-kata mutiara dari om Bill Gates.
Jika Anda terlahir miskin, itu bukan salah Anda. Tapi jika Anda meninggal dalam keadaan miskin, itu salah Anda.
--Bill Gates--

Bill Gates's Quote

0 komentar:

Posting Komentar

Nggak usah sungkan buat nanya atau nulis disini, selaw aja.
Jangan lupa klik iklannya juga ya, buat support kami :)))