Hujan Sore Itu

 Aku kira pelangi selalu hadir setelah hujan lebat, tapi nyatanya tidak. Seperti sore ini, ia tidak datang walau hanya sekejap, bahkan ketika aku menunggunya hingga fajar menyingsing.

 "Fan, lu udah mau balik belom? Kantor udah sepi nih," ujar seorang wanita di ujung telepon sana. Sore itu gue janji buat jemput dia.

"Iya Sis, sebenernya sih masih ada yang perlu gue kerjain sih," jawab gue sambil melihat layar laptop di meja kerja.

"Kalau gitu, gue nge-ojol aja deh. Takut gue sendirian di kantor."

"Jangan-jangan! Oke gue jemput aja ya? Kan gue udah janji sama lu," potong gue. "Tapi temenin gue ngerjain bentar di kafe biasa ya?"

"Boleh, gue juga lagi kosong habis ini. Oke, gue temenin deh!"

"Kalau lebih dari temen boleh nggak?"

"Eh apaan sih lu! Udah buru jemput gue!"

"Siap!" Dan saat itu juga gue langsung nutup laptop, masukin barang ke tas, dan bersiap jemput Siska.

Namanya Siska. Dia temen deket gue. Ya, teman dekat, atau mungkin 'masih' teman. Kami emang udah deket lama. Udah nggak ada kata nggak enak lagi diantara kami. Kami juga udah saling tahu satu sama lain. Cuma satu hal yang dia nggak tahu dari gue.

"Woyy Sis, dimana lu?" Gue langsung nyolot di telpon tanpa salam.

"Bentar, ini jalan keluar." Dari kejauhan wajah cantiknya sudah terlihat jelas, seolah auranya langsung terpancar. Ya, cewek berkacamata dengan rambut diikat itu berjalan cepat, setengah lari.

"Lama amat!" omelnya ke gue.

"Ah ngomel mulu. Ya lu ngapain nunggu di dalem," balas gue. "Nih pake aja helmnya!"

Kami pun meluncur ke kafe tempat biasa kami nongkrong kalau lagi bosen. Hampir tiap weekend kami selalu datang kesini, cuma buat melepas sepi aja. Karena besok hari libur, bisalah ya malam ini gue berlama-lama sama dia. Dan saking seringnya kami kesini, barista sampai hafal pesanan kami, Chocolate caramel dan Espresso Machiato, dan beberapa cemilan.

"Lu mau nggak?" gue menawarkan kentang goreng ke Siska.

"Nggak, lagi diet," jawabnya sambil scroll timeline media sosial.

"Lagi diet tapi pesennya chocolate caramel. Ya manis-manis juga buuuu!!" Gue mengambil sepotong kentang goreng itu. "Eh tapi nggak apa-apa, gue suka kok kalau lu tambah manis. Bahkan lu mau gendut atau kurus, lu masih cantik. Gue juga tetep suka."

"Nah kan mulai... mulai!! Udah deh lu kerjain aja kerjaan lu!" Seperti biasa, Siska pasti selalu ngomel kalau gue gituin. Tapi entah kenapa gue suka godain dia kayak gitu. Alias, ya emang gue suka. Soal kerjaan, sebenernya kerjaan ini nggak urgent, ya gue cuma ngajak dia kesini aja.

Untungnya setiap dia ngomel kayak gitu, nggak lama balik lagi seperti semula. Kami pun ngobrol lagi, mulai dari kerjaan, cerita di kantornya yang katanya mulai banyak drama, julid masalah instastory temen yang suka pamer, sampai ngomongin pengunjung kafe yang nggak kami kenal. Sesekali kami saling melempar guyonan yang sejujurnya terdengar garing, tapi tetap saja kami bisa tertawa. Mungkin selera humor kami sama-sama rendah.

"Eh besok lu ada acara nggak? Nonton yuk!" tanya gue memotong tertawanya.

"Emm, besok gue ada janji mau ketemuan sama Alvin. Lain kali aja deh, Fan."

"Alvin temen kantor lu itu?" Dia pernah cerita soal si Alvin ini. Dan seketika gue malas buat ketawa lagi.

"Iya. Sorry ya, Fan!"

"Jam berapa emang? Mau gue anter nggak?"

"Jam 3 sih, tapi nggak usah deh!"

"Udah nggak apa-apa. Gue jemput ya besok jam 3?"

"Okedeh kalau lu maksa. Lumayan ngehemat bayar ojol." Siska tertawa lagi. Tapi kali ini gue cuma tersenyum tipis. Gue penasaran mereka mau ngapain nantinya. Iya gue tahu kalau Alvin suka sama Siska. Dan gue juga tahu kalau Siska juga ada perasaan sama ke Alvin. Hah! Kenapa urusan hati ini selalu menjadi pelik?!

Sore itu.

Gue udah siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Haha... bukan apa sih, cuma terkadang soal hati butuh kesiapan yang mumpuni.

Tepat pukul 3 sore, gue dan Siska sudah tiba di Mall tempat janjian.

"Lantai berapa sih?" tanya gue, berusaha buat baik-baik saja walaupun sebenernya ada yang mengganjal.

"Katanya sih lantai 3, disini." Siska melihat sekeliling sambil menekan smartphone-nya. "Itu kayaknya dia deh! Alvin!"

"Eh nggak teriak-teriak juga kali." Gue menyusul langkah dia yang mulai mendekat ke orang yang dimaksud.

Siska nggak peduli, dia tetap berteriak Alvin sambil mendekati orang itu. Orang itu menoleh cepat. Benar, dia orangnya.

"Eh sorry ya, Sis, udah lama ya nunggunya?" Basa-basi Alvin sesaat setelah tahu Siska ternyata yang memanggilnya. Mereka kemudian tos, tapi kenapa itu pegangan nggak lepas-lepas, ya?!

"Enggak, gue juga baru dateng kok," jawab Siska, "Eh iya, kenalin Alvin ini Irfan. Irfan ini Alvin."

Gue dan Alvin saling bersalaman. Gue tersenyum tipis, mencoba untuk tetap biasa saja. Ya bukannya emang biasa aja, harusnya. Tapi entah kenapa gue merasa ada sesuatu yang mengganjal dan berkecamuk di dada. Entahlah.

Ternyata gue nggak siap.
Mereka terlihat benar-benar cocok. Saling bercanda, tertawa, bahkan sesekali mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Gue cuma bisa berjalan gontai dibelakang sambil berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas panjang.

"Eh Fan, lu mau makan nggak? Kita mau makan nih," tanya Siska mengaburkan lamunan gue.

"Emm..., kayaknya gue harus cabut dulu deh. Ada urusan mendadak nih. Sorry ya Sis, Vin!"

"Eh kok lu gitu sih?!" Siska berusaha menahan gue.

Sorry Sis, gue cuma nggak kuat sama keadaan ini.

"Sorry banget ya. Gue harus cabut sekarang."

Kini gue udah nyampai di parkiran. Terlihat langit agak mendung, persis seperti apa yang gue rasain. Mungkin semesta menyadarinya.

Gerimis mulai datang. Gue memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke kafe. Ya, mungkin hanya berteduh, atau sekadar menenangkan diri. Huh, kenapa gue bisa ngerasa kayak gini ya?

Gue sadar, gue bukan siapa-siapanya. gue bahkan nggak berhak melarang dia buat jalan dan ketemu siapapun. Gue juga tak berhak buat ngatur dia ingin menaruh perasaan itu ke siapa. Gue hanya teman dekat, yang sepertinya tugas gue hanya untuk menghiburnya saja kala dia sedih, sampai dia temukan orang yang jauh lebih bisa menghibur dan menemaninya. Nggak lebih.

Urusan perasaan itu? Sepertinya gue nggak perlu lagi mempedulikannya. Jika dia memang buat gue, gue yakin, kita akan bertemu pada satu tuju. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya saja 'kan?

Gue menatap tetesan air di balik jendela kafe. Hujan sore ini, gue harap akan ada pelangi yang datang.


Cinta dalam Diam 2: Masih Sama

Bagian 2: sebuah kisah dalam diam lanjutan Bagian 1

"Tumben baru datang, Ca?" Aku mempercepat langkahku saat tahu dia berada di depan, berjalan sejajar dengannya, hendak memasuki gedung perkantoran ini. Basa-basi. 

"Eh?" Wanita yang tepat disampingku menoleh cepat, sepertinya aku sukses membuat dia terkejut. "Iya nih, Za, jalanan rame banget tadi. Mana sempet salah belok driver onlinenya." 

 Ya, dia adalah wanita yang sama, yang pernah aku jumpai di bangku SMA dulu. Wanita yang pernah aku idamkan. Pertemuan singkat dulu ternyata terbayar lunas dengan pertemuan kini. Setelah sekian purnama tak berjumpa, tepat 3 bulan lalu, dia kembali.

 Aku mengusap mata pagi itu saat dia menghampiri dan menugurku. Setengah mengantuk.

"Hai, kamu Reza 'kan?" Suara itu terdengar dari sisi kananku. Aku yang setengah kaget segera membenahi kacatama yang terpasang di dahi. Menoleh.

"Reza 'kan?" Dia mengulang kembali pertanyaan itu. Hei, siapa wanita yang berpakaian formal ini? Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dahiku mulai mengerut. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. Dia menarik kursi sebelah yang masih kosong, lantas duduk. Aku yang masih bingung siapa dia, mencoba mengingat-ingat. Tapi sepertinya tak ada bayangan sama sekali.

Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Kamu pasti masih ingat ini kan?"

Boneka penyu? Ingatanku seolah menarik mundur waktu ke masa itu. Masa putih abu-abu. Tepat saat aku mendatangi rumahnya untuk pertemuan yang terakhir kali. Cinta masa SMA yang dulu pernah ada.

"Chaca?" Aku berusaha menebak, dan pasti tebakanku benar.

"Akhirnya kamu ingat juga." Dia tersenyum kecil.

"Sorry, soalnya... agak... beda." Aku memutar-mutarkan jariku di dekat dahi. Mengisyaratkan disitulah perbedaannya. Sebenarnya dia masih sama seperti dulu, berkacamata, berkulit putih, hanya saja sekarang ditambah dengan hijab yang menambah anggun parasnya. Apalagi saat dia ternyum kecil tadi, adalah kombinasi yang sempurna dari sebuah definisi kata manis. "Kamu masih nyimpen itu?"

"Ya... penyu ini yang sering menemaniku kemana pun. Bukankah penyu adalah sebuah simbol kesetiaan? Sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali pulang, 'kan?" Dia menyodorkan tangannya. "Aku anak baru disini. Baru hari ini mulai. Dan sepertinya kita satu tim ya?"

Kami pun larut dalam obrolan mengenang masa lalu. Mulai dari setelah dia pindah, kuliahnya, hingga bagaimana dia bisa diterima di kantor konsultan finance ini. Jika dipikir-pikir lucu juga memang. Sejak Chaca pindah, tak ada komunikasi sama sekali diantara kita. Mungkin aku terlalu penakut untuk menghubunginya lebih dulu, walau hanya bertanya kabar. Aku memang bukan pembuka pembicaraan yang baik. Tapi, walaupun tak ada komunikasi selama bertahun-tahun, mengapa tiba-tiba waktu mempertemukan kami kembali? Sebuah kebetulan kah? Aku tak percaya sebuah kebetulan. Bukankah semua sudah digariskan? Entahlah, lucu, juga membingungkan? Dan aku.... hey kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul lagi? Perasaan yang masih sama seperti dulu.

Malam harinya, aku mengabarkan kepada Dika yang kini sedang melanjutkan study-nya di negeri seberang. Dia ambisius sekali mengejar pendidikan masternya di luar negeri. Padahal dia tak pintar-pintar amat.

"Kok bisa?!!" Dika terheran di ujung telepon sana. Aku hanya terkekeh. Ya ini memang sangat mengherankan.

Sejak perkenalan pagi itu, tak sulit bagi kami untuk dekat walau dengan obrolan yang sebenarnya itu-itu saja. Obrolan basa-basi yang sangat tidak penting, masalah kerjaan, hingga membicarakan atasan dan teman kantor. Meskipun aku bukan orang yang baik untuk mengawali pembicaraan, tapi aku selalu berusaha untuk memulai. Aku tak mau saat-saat dulu terulang lagi. Meskipun untuk beberapa topik dia hanya mengiyakan saja. Entahlah mungkin tak nyaman, atau sudah tahu kalau itu hanya sekadar basa-basi saja. Aku juga sering berusaha untuk melakukan sesuatu bersama dia, mulai kunjungan ke client, mengerjakan satu-dua hal, istirahat makan siang, hingga saat pulang kantor. Seolah semua berjalan tanpa disengaja. Entahlah.

"Tapi lu masih nyimpen rasa kan sama dia?" ujar Dika melalui telepon malam itu. Aku hanya terdiam. "Lu ungkapin aja kali. Heran dah, daridulu nggak pernah berubah."

"Tapi, kalau ternyata dia nggak punya perasaan yang sama, semua bakal berubah nggak sih? Semua bakal awkward, canggung, nggak sama lagi. Semua bakal...."

"Tapi kalau dia punya rasa yang sama?" Dika memotong pembicaraanku. "Kenapa nggak lu coba dulu? Mau sampai kapan lu diam-diam terus gini?"

Aku hanya menghela nafas.

Tiga bulan berlalu sejak pertemuan itu. Kami masih sering ngobrol hal-hal yang biasa-biasa saja, ataupun hanya sekadar basa-basi, seperti pagi ini.

"Yang penting kan bisa nyampai tepat waktu juga." Aku melanjutkan basa-basi itu.

"Iya sih," jawabnya singkat.

Ya, Semua seolah berjalan tak ada apa-apa. Tak ada yang perlu di-apa-apa-kan bukan? Aku suka dengan kami yang sekarang. Aku juga bahagia dengan keadaan sekarang. Dia selalu membawa keceriaan dengan cara sederhana. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya saja, walau aku pun tak tahu bagaimana kelanjutannya. Semesta pasti punya cara dan jalannya sendiri.

Jangan Pernah Investasi, Kalau Belum Siap Satu Hal Ini

Uang tumbuh dengan investasi
Investasi Bagaikan Menanam Duit

Akhir-akhir ini, investasi memang sangat digaung-gaungkan. Mulai dari investasi logam mulia alias emas, reksadana, pasar modal alias saham, properti, bahkan kepemilikan suatu bisnis. Bahkan sejak 2-3 tahun yang lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) atau nama kerennya: Indonesia Stock Exchange (IDX), tengah mempromosikan gerakan #yuknabungsaham. Beberapa platform layanan jual-beli reksadana dan emas pun kini telah menyediakan program cicil yang bisa dimulai dari 5000 hingga 10000 saja. Ya bayangin aja, gimana nggak tertarik kalau investasi aja lebih murah dari sebungkus Nasi Padang.

Emang sih, investasi itu penting. Penting banget malah. Gue setuju sama hal itu. Ya siapa sih yang mau duitnya tergerus inflasi? Yang dulunya beli gorengan 5000 dapat 10, sekarang 5000 cuma dapat 5. Yaps, benar, itu emang tujuan dari investasi itu sendiri. Bahkan buat tujuan tertentu di masa yang akan datang, kayak nikah, sekolah anak yang entah berapa tahun lagi karena nikahnya aja belom, beli rumah, beli kendaraan pribadi atau hal-hal lainnya, perlu juga investasi. Ya, istilah gampangnya meraih masa depan lah ya, salah satunya ya dengan investasi itu. Setuju gue.

Tapi, sebelum terjun ke dunia investasi yang penuh dengan ketidakpastian, ya kayak ngarepin doi gitu lah, satu hal yang nggak boleh dilupakan. Satu hal yang jauh lebih penting daripada investasi. Yes, satu hal itu adalah DANA DARURAT.

Nah, Apasih Sebenarnya DANA DARURAT itu?

Ya namanya juga dana darurat, dana yang hanya dipakai pas lagi darurat-daruratnya, alias bisa dibilang juga dana cadangan gitu. Misalnya nih, (amit-amit) tiba-tiba sakit atau kecelakaan, atau tiba-tiba laptop rusak, atau pas keadaat darurat lain, dana darurat ini penyelamatnya. Apalagi saat wabah penyakit Covid-19 seperti sekarang yang banyak pekerja dirumahkan, dana darurat ini penting kehadirannya. Dan memang tujuan dari dana darurat ya seperti itu. Jadi, nggak ganggu alokasi dana lain atau nggak perlu ngutang ke tetangga. Ya tahu kan kalau ngutang ke tetangga, nanti bakal diomongin kayak apa.

Gue mau sharing sedikit nih pengalaman gue. Kan Guru terbaik adalah best teacher pengalaman. Jadi dulu pernah suatu ketika, pas awal-awal kenal apa itu investasi, sekitar 2019 awal, gue asal-asalan langsung ikutan investasi. Mulai dari reksadana hingga saham. Ya, gue langsung terjun ke instrumen investasi yang punya resiko paling besar. Ya siapa sih orang yang nggak tahu apa-apa kena promosi keuntungan bisa sampai 20% pertahun. Jelas tertarik kan ya. Gue mulai investasi nih. Ya nominalnya sih nggak gede-gede amat ya. Jalan satu minggu, portofolio merah alias turun dong. Satu minggu kemudian udah mulai naik. Eh, minggu-minggu berikutnya malah makin turun. Singkat cerita setelah jalan 2-3 bulan, ada satu hal darurat yang gue alami. Begonya gue adalah gue terlalu asyik investasi sampai gue nggak siap dana darurat. Alias gue belum ngumpulin dana darurat sama sekali. Dan di waktu yang sama, portfolio investasi gue, dimana gue invest di saham, lagi pas turun alias gue rugi dong. Karena keadaan lagi darurat dan pas lagi butuh dana, ya mau nggak mau gue cairin investasi yang merah itu. Secara nominal memang nggak banyak, cuma secara persentase lumayan juga dong ruginya. Dan itu lah hal bego yang pernah gue alami kalau investasi tanpa dana darurat.

Nah, sejak saat itu gue mulai ngumpulin tuh dana darurat. Ya setidaknya gue nggak jatuh di lubang yang sama buat kedua kalinya. Yes, jangan tiru gue pas awal-awal kenal investasi ya guys. Investasi itu nggak bisa langsung untung dalam satu-dua hari, jadi nggak bisa dipastiin apakah pas keadaan darurat, kita pas lagi untung apa nggak. Makanya, kehadiran dana darurat sangat diperlukan di saat seperti ini.

Sebenarnya Berapa sih Besarnya Dana Darurat yang Harus Dikumpulin?

Sebenarnya ini jawabannya relatif dan sesuai keadaan aja. Gue rangkum dari beberapa sumber yang gue temuin, terutama di akun Instagram @zapfinance dan @finansial_com, gue sangat rekomendasiin dua akun ini, enak aja dimengerti dan pas aja gitu rasanya. Iya gue nggak di-endorse atau apa. Tapi boleh kok kalau mau berpartnet. Oke, jadi besarnya dana darurat yang harus dikumpulin itu bervariasi.

  • Kalau kalian masih single alias jomblo akut yang nggak laku-laku, kalian harus siapkan minimal 3-6 kali pengeluaran perbulan.
  • Kalau kalian sudah berpasangan, besar dana darurat minimal 6-9 kali pengeluaran perbulan.
  • Kalau kalian sudah berpasangan dan sudah mempunyai anak atau tanggungan, minimal 9-12 kali pengeluaran perbulan harus disiapkan di dana darurat.

Jadi misalnya nih, gue single dan pengeluaran perbulan gue total 5 juta, sudah termasuk biaya hidup dan biaya senang-senang juga, maka minimal gue harus nyediain 15 juta di dana darurat gue. Kok banyak ya? Kok berat ya? Enggak kok, kalau diusahain pasti bisa. Ini kan juga demi kebaikan diri sendiri juga, misal terjadi hal yang diluar harapan. Dan eits, tunggu, itu jumlah minimal ya, makin besar makin bagus juga. Tapi jangan terlalu besar sampai lupa investasi atau malah nyakitin diri sendiri. Cukup dia aja yang nyakitin hati lu, lu jangan nyakitin diri lu juga!


Jika Sudah Terkumpul, Ditaruh Mana nih Dana Darurat?

Yang terpenting jangan taruh dana darurat bercampur dengan dana operasional alias dana hidup di rekening utama ya guys. Ya, takut khilaf aja nanti pas ada diskonan. Kita bisa taruh atau kumpulin dana darurat di rekening terpisah dan sebisa mungkin likuid ya alias bisa dicairkan kapan aja. Tapi jangan sampai keseringan dicairkan karena ada barang lucu yang diskon ya. Jangan. Cukup buat keperluan darurat aja. Dana darurat ini sangat bisa dicicil perbulan lho, jadi nggak harus dikumpulin dalam sekali waktu. Jadi misal dana darurat sudah kepake nih seperempatnya, bisa dikumpulin lagi sampai mencapai target. Asal jangan dipakai buat khilaf aja.

Nah jadi satu hal yang penting, harus, kudu, wajib ada sebelum investasi itu dana darurat ya. Selain dana darurat, kita juga bisa nambah asuransi misalnya untuk melindungi diri kita. Istilah kerennya proteksi diri lah. Kalau dirasa dana darurat cukup nanggung keadaan darurat ya nggak masalah. Tapi lebih amannya sih asuransi juga, minimal asuransi kesehatan lah, jaga-jaga kalau sakit.

Oke mungkin itu ya sharing dari gue, yang jarang banget update. Gue menerima kritik dan sarannya kalau ada hal yang menurut kalian ganjil dan perlu digenapkan. Semoga kita selalu sehat.



Emergency Fund
Sumber tertera

26-04-20
Sandal Jepit

7 Cara Mengatur Keuangan ala Fresh Graduate dan First Jobbers

First Jobber Ilustration


Suatu ketika gue pernah ditanya sama temen tentang pertanyaan yang bagi gue sendiri sebenernya agak membingungkan. Yes, kurang lebih pertanyaannya;
Menurut lo gaji 5-6 juta buat hidup di Jakarta itu cukup nggak? Maksudnya, kira-kira masih bisa nabung bulanan nggak ya sama gaji segitu? Selama ini kok gue susah ya? Pasti langsung abis gitu aja.
Sebenernya ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit bagi gue. Yes, karena sebenernya pertanyaan ini tergantung gaya hidup tiap orang. Tapi menurut gue, itu udah lebih dari cukup lho!

Nah gue mau share cara-cara ngatur duit ala gue nih sebagai orang yang baru kerja alias First Jobber. Cara-cara ini gue dapet dari beberapa sumber, tapi kebanyakan lebih ke learning by doing aja. Dan gue juga nggak pakai jasa financial planner alias ya gue jalanin aja sendiri. Daripada nyewa financial planner ya kan mahal.

Buat Anggaran

Hal terpenting untuk bisa mengatur keuangan adalah anggaran. Nah gue mau cerita sedikit nih pengalaman gue. Jadi dulu pas awal-awal banget jadi first jobber, gue sama sekali nggak mikirin sama sekali tentang gimana gue manage duit. Yes, alias let it flow ajalah. Dan hasilnya nggak kerasa isi rekening makin hari makin kekuras. Dan, karena gue perantau di ibu kota, hampir aja gue nggak bisa bayar kost.

Karena itu gue sadar kalau anggaran itu penting. Udah gue bold, italic, sekaligus underline. Nggak cuma negara aja yang butuh anggaran, ternyata hidup seorang pun harus ada anggarannya. Jadi setiap akhir bulan, bikin daftar anggaran untuk bulan depan. Atau bisa juga bikin satu anggaran bulanan untuk berbulan-bulan biar nggak selalu bikin.

Anggaran ini isinya prosentase yang kira-kira dibutuhkan atau digunain pada tiap pos tertentu. Misalnya nih:
50% dari pendapatan digunain buat kebutuhan sehari-hari, termasuk makan, kostan (kalau kalian perantau), transport (baik ke kantor maupun buat main), dan belanja-belanja kebutuhan sehari-hari.
20% dari pendapatan digunain  buat ngopi-ngopi cantik alias kehidupan sosial. Di pos ini juga bisa digunain buat nyenengin diri, makan-makan cantik, jalan-jalan di mall, atau lainnya.
20% dari pendapatan digunain buat nabung dan investasi. Haram hukumnya buat ngambil anggaran pos ini untuk keperluan selain nabung sama investasi. Pokoknya di pos ini buat masa depan.
10% dari pendapatan buat amal atau sedekah. Yang ini jangan dilupain pokoknya. Harus ada anggaran buat amal dan sedekah.

Setelah bikin anggaran, jalanin aja sesuai anggaran itu. Di akhir bulan anggaran, cek pos mana aja yang bocor dan kenapa bisa bocor. Lakuin perenungan alias evaluasi apa aja yang udah dilakuin sebulan sehingga anggaran yang dibuat bisa bocor. Lakuin itu rutin, deh! Pasti akan terbiasa disiplin gunain dana sesuai posnya.

Catat Semua Pengeluaran

Setelah bikin anggaran, tentunya kita pasti ingin tahu dong realisasinya. Nah catat seluruh pengeluaran adalah kuncinya. Emang susah buat nyatet pengeluaran, apalagi seluruh pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil seperti beli minuman ringan, atau bayar parkir sekalipun. Tapi biasanya justru pengeluaran kecil itu yang bikin jadi besar. Untuk itu perlu dicatat semua pengeluaran. Yes, semua, termasuk seratus perak.

Catat Semua Pengeluaran!
Karena jutaan orang tidak menyadari kalau recehan-recehan yang mereka keluarkan dengan sering, maka lama-lama akan jadi banyak juga jumlahnya.

Sekarang sih nggak perlu repot-repot buat nyatet manual di kertas. Sekarang sudah banyak aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan buat nyatet pengeluaran, bahkan bisa masukin pengeluaran itu kedalam pos-pos sesuai anggaran yang kita buat sebelumnya. Tapi berhubung gue nggak dibayar nih buat promosi, gue nggak sebutin tuh nama aplikasinya. Plak!

Nah, malam sebelum tidur, isi tuh aplikasi buat nyatet pengeluaran hari itu. Tiap weekend atau pas lagi kosong, kurangin anggaran perpos-pos sama pengeluaran yang udah dimasukin perpos-pos itu juga. Kalau emang sisa anggaran udah nipis, maka udah saatnya buat kurang-kurangin khilafnya alias berhemat. Tapi bukan berarti kalau sisa anggaran masih banyak malah makin boros. Jangan nambah khilaf, euy!

Sisihkan bukan Sisakan

Banyak orang yang salah kaprah soal nabung. Kebanyakan mereka menabung dari sisa kebutuhan. Padahal itu salah. Bisa-bisa malah nggak nabung sama sekali. Nah buat hindari itu, maka konsepnya dibalik, yaitu dengan menyisihkan dulu buat nabung.

Di awal tadi kita udah bikin anggaran. Salah satu pos anggaran itu adalah buat nabung dan investasi. Sisihkan dulu dana di pos itu setelah gajian atau terima pendapatan. Jadi kita tetep bisa nabung dengan jumlah yang konsisten secara terus-menerus.

Pisahkan Rekening

Walaupun sepele, tapi ternyata memisahkan rekening itu penting. Penting buat punya rekening lebih dari satu. Satu rekening buat nampung dana kebutuhan, sisanya buat nabung atau investasi. Nah nyambung sama cara sebelumnya nih, jadi menyisihkan pendapatan untuk nabung di awal tanggal gajian bisa langsung menaruh duitnya pada rekening khusus tabungan ini. Tapi inget, jangan pernah mengambil dana di rekening nabung ini, kecuali buat keperluan yang bener-bener mendesak. Kalau perlu sih simpan kartu debit tabungan dan jangan taruh di dompet. Sementara rekening yang menampung dana kebutuhan, bisa digunain buat kebutuhan sehari-hari.

Jadi memisahkan rekening ini intinya buat memisahkan rekening tabungan dan rekening kebutuhan. Sebenarnya bebas mau memisahkan ke berapa rekening. Tapi jangan banyak-banyak karena malah bisa lebih susah ngelolanya. Kalau saran gue sih 2 rekening aja cukup. Udah kayak KB malah. Plak! Bebas mau sama bank atau beda bank sekalipun. Inget ya rekening bank, bukan e-wallet, seperti LinkAja, Ovo, Gopay, atau Dana. Kenapa jangan e-wallet? Karena e-wallet sekarang lebih banyak promo, bisa-bisa malah makin khilaf!

Mengerti Kebutuhan dan Keinginan

Nah kalau cara ini sebenernya adalah cara paling susah. Kadang kita menganggap kalau kita itu bener-bener butuh tuh barang, eh akhirnya malah nganggur. Yang kayak gini ini biasanya karena barang itu cuma keinginan, bukan kebutuhan. Emang susah sih buat bedain antara kebutuhan dan keinginan. Tapi menurut beberapa sumber yang gue baca, dan tentunya udah gue praktekkan, caranya tenyata simpel. Cukup beri waktu buat diri kita mikir.

Misalnya gini, jika kita ingin suatu barang nih, jangan langsung beli, tapi biarkan 3 sampai 7 hari diri kita buat mikir apakah itu barang bener-bener butuh atau ternyata cuma buat lucu-lucuan aja. Di waktu 3 sampai 7 hari itu pertimbangin juga efeknya apa aja jika barang itu nggak kebeli, alternatif barang lain yang lebih penting, atau apapun buat mempertimbangkan apakah barang itu layak dibeli atau nggak.

Kalau sudah sampai 7 hari dan kita udah lupa sama barang itu, tandanya barang itu nggak penting-penting amat, berarti bukan kebutuhan, tapi keinginan. Sebaliknya kalau setelah 7 hari itu emang ngerasa butuh banget barang itu, sampai-sampai nggak bisa hidup tanpa dirimu, ya berarti emang butuh. Layak buat ngeluarin dana buat beli itu barang. Karena yang bikin boros itu adalah keinginan karena lucu-lucuan aja, bukan karena emang butuh.

Dana Darurat dan Investasi

Di cara-cara sebelumnya gue udah nyinggung nih tentang dana darurat dan investasi. Ini perlu banget buat masa depan. Apasih dana darurat dan investasi itu?

Dana darurat itu semacam tabungan yang hanya digunain buat keadaan darurat. Inget, hanya digunain dalam keadaan darurat. Keadaan darurat ini misalnya tiba-tiba ada keluarga yang sakit keras, atau malah diri sendiri, sampai masuk rumah sakit. Bisa juga tiba-tiba ada PHK karyawan di tempat kita dan mengharuskan kita buat nyari tempat baru.

Besarnya dana darurat ini sih idealnya 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan, yang artinya misal kita nggak dapat gaji 3 sampai 6 bulan kita masih bisa hidup. Jika katakanlah pengeluaran bulanan adalah Rp3.000.000,- maka idealnya dana darurat adalah Rp9.000.000 sampai Rp18.000.000. Waduh kok gede amat? Yes, emang gede karena tujuannya emang buat ngecover keadaan darurat. Tapi ngumpulin dana darurat bisa dicicil bulanan kok, ya bisa dari anggaran yang dibuat tadi. Kan kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama dua-tiga pulau terlampaui. Sisihkan dikit-dikit, kebutuhan dapat, nabung dapat, dana darurat dapat. Secara teori dana darurat sih gitu. Prakteknya sendiri sih gue udah ada dana darurat, cuma belum mencapai titik ideal. Setidaknya ada-lah.

Apa bedanya sama investasi?
Investasi itu kasarnya adalah melakukan hal saat ini buat masa depan. Investasi itu nggak melulu soal duit, duit, dan duit kok. Bahkan beberapa pendapat investasi yang paling penting itu leher keatas. Bukan, bukan sabun muka, tapi ilmu. Apalagi buat first jobber tentunya harus terus belajar kan ya.

Tapi meskipun demikian, investasi material itu juga perlu banget, lho! Banyak instrumen investasi yang bisa dipilih buat masa depan, seperti deposito, emas atau logam mulia, surat berharga negara atau obligasi, reksadana, hingga saham. Tinggal milih sesuai profil risiko. Inget ya, kalau di investasi harus disesuaikan dengan profil risiko, bukan keinginan. Karena dalam investasi itu selalu risiko dan berlaku high risk high return. Kalau ingin imbal balik yang besar, ada risiko besar di dalamnya. Nah, seberapa toleran kita sama risiko tersebut, itulah profil risiko.

Sebenernya panjang kalau udah bahas dana darurat dan investasi. Rencanya gue bakal nulis ini di pembahasan yang berbeda, khusus tentang dana darurat dan investasi. Ditunggu aja tanggal mainnya.

Bersedekah

Ini wajib dan harus ada kalau mau memanage keuangan. Yes, dengan bersedah kita pasti akan selalu ngerasa cukup dan dicukupkan. Dan yang perlu diinget, sebagian harta kita adalah milik orang lain yang kurang beruntung. Jadi, kalau dapat gaji atau pendapatan pos untuk sedekah harus ada dan harus disisihkan lebih dulu. Jangan sampai pos sedekah malah dibuat ngopi-ngopi cantik.


Sebenernya masih banyak sih cara-cara lain yang bisa dilakukan buat mengatur keuangan ala fresh graduate dan first jobber. 7 cara itu yang umum dan paling gampang dilakukan. Gue juga udah nyoba, dan hasilnya gue seikit banyak kemana uang gue, ya kadang juga masih ada yang bocor. Sebenernya dari ketujuh cara tersebut masih banyak yang harus dijelaskan. Karena ini udah panjang, jadi kalau masing-masing dibikin post terpisah bagaimana, ya?

Terakhir gue mau ngutip kata-kata mutiara dari om Bill Gates.
Jika Anda terlahir miskin, itu bukan salah Anda. Tapi jika Anda meninggal dalam keadaan miskin, itu salah Anda.
--Bill Gates--

Bill Gates's Quote

Fenomena Kekinian Skuter Listrik, Menyenangkan atau Mengancam?

GrabWheels
Skuter Listrik (Gambar dari sumber lain dan hanya contoh)

Skuter listrik yes kali ini, setelah vacum cukup lama, gue bakal bahas sesuatu yang sedang hits di kalangan milenial ini. Kemunculan otoped atau skuter listrik di jalanan kota akhir-akhir ini emang sangat jelas. Bahkan kios yang menyewakan otoped atau skuter listrik makin-makin lama makin menjamur. Sejak Grab meluncurkan GrabWheels-nya, skuter listrik mulai hits. Yes, banyak anak-anak hingga millenial yang berbondong-bondong nyari kios yang menyewakan otoped ini, yang tentunya sangat gampang dicari cuma pakai aplikasi.

Sebenernya sih menurut gue gak ada masalah juga skuter listrik ini mau hits dan semua ingin nyoba. Hanya saja peristiwa tewasnya dua orang pengendara GrabWheels yang tertabrak oleh pengendara mobil di sekitaran Gelora Bung Karno bikin gue agak kesal sama pengendara otoped.

Nah lho? Kok malah sama pengendara otopednya? Lu ngebela pengendara mobilnya yang jelas-jelas udah menewaskan dua orang anak?

Bukan. Gue nulis ini bukan bela siapa-siapa. Bukan juga bakal ngurusin kasus itu. Biarkan yang berwenang yang mengurus kasus itu. Gue cuma keinget sama ulah pengendara sekuter listrik ini yang..... hmm.... entahlah. Ohya gue disini juga gak nyalahin Grab dengan GrabWheels-nya atau kios-kios penyewaannya, ya.


Membahayakan Pejalan Kaki

Gue adalah pengguna transportasi umum di Ibu Kota ini, yang otomatis gue juga pejalan kaki. Hampir tiap hari gue jalan kaki di trotoar Jalan Sudirman Jakarta. Iya, secara kantor gue disekitaran sana. Sebelum negara api menyerang skuter listrik seramai sekarang, gue ngerasa kalau jalan di trotoar, gue gak bakal nabrak kendaraan. Tapi sekarang gue salah, gue pernah hampir diserempet sama skuter listrik kecepatan diatas normal di trotoar. Belum lagi banyak lalu lalang pengendara otoped yang sembarangan. Yes, kadang ditengah, di sebelah kiri, sebalah kanan, kadang malah zigzag. Asli, itu ganggu penjalan kaki banget.

Sebenernya yang ganggu pejalan kaki gini nggak cuma skuter listrik aja tapi para pemain skateboard. Di daerah Bundaran Senayan atau di trotoar Dukuh Atas misalnya, banyak banget skateboarder yang main-main di trotoar. Gue selalu ngerasa was-was dan gak aman pas lewat kerumunan para pemain skateboard dan skuter listrik. Lalu apa gunanya trotoar kalau sama-sama takut ketabrak kendaraan?

Ohya, gak cuma di trotoar, sebelum Dishub DKI ngeluarin larangan skuter listrik naik ke Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), banyak pengendara skuter listrik yang naik ke JPO sambil ngegas skuternya. Ya kalian pasti tahu lebar JPO itu seberapa dan bagaimana sibuknya di jam-jam pulang kantor. Tanpa ngerasa dosa, ganggu atau apa, tak jarang pengendara skuter listrik ini naik dan ngegas skuternya.

Lawan Arah

Gue sering liat para pengendara skuter listrik yang lawan arah. Mirisnya mereka bukan di tempat yang disediakan tapi di jalanan utama alias adu banteng sama pengendara kendaraan lain. Entah karena mereka merasa kendaraan tak bermotor maka bebas lawan arah atau gimana. Yang jelas itu sangat membahayakan pengendara lain yang benar.

Melanggar Lampu Merah

Yang ini juga sering terjadi. Terlebih di jalanan besar. Banyak pengendara skuter listrik yang ngelanggar lampu merah alias main terobos aja. Bahaya, bro!


Sebenernya nggak masalah main skuter listrik, asal di tempat yang lapang atau bukan jalanan umum, baik jalanan kendaraan bermotor atau jalanan pejalan kaki. Emang sih menyenangkan, tapi jangan bikin bahaya orang lain. Sama-sama menyenangkan kan asik. Ya, kan?

Pertanyaannya kenapa yang kekinian, hits, dan viral selalu nimbulin masalah baru?